Arsitektur Purna Modern

25 09 2010

Pengklasifikasian Arsitektur Purna-modern

A. Canonic Classicism.

Keberadaan Canonic Classicism, yang merupakan salah satu aliran arsitektur Purna Modern yang sangat dekat dengan budaya dan tradisi, seakan-akan menjadi “obat” bagi kejenuhan terhadap bentuk arsitektur Modern yang monoton. Hal ini dikarenakan arsitektur Canonic Classicism ini lebih menonjolkan wujud bangunan klasik, sementara unsur modern-nya lebih tampak pada bahan bangunan, maupun aturan dalam membangun.

Arti kata dari canonic adalah pengumpulan peraturan-peraturan atau data-data atau dalih-dalih agama.  Dalam kamus juga berarti pengumpulan norma atau ukuran-ukuran. Jadi arti kata Canonic Classicism sendiri berarti pengumpulan nilai-nilai, ukuran-ukuran dari tradisi dan budaya.

Pendekatan utama yang dianut oleh aliran arsitektur Purna Modern adalah tiga prinsip utama Vitruvius, yakni fungsi, kekokohan dan keindahan. Sedangkan yang paling ditekankan dalam arsitektur Canonic Classicism adalah segi keindahan. Para penganut Canonic Classicism yakin bahwa gaya klasik adalah bahasa yang terpenting, sehingga terdapat kecenderungan bahwa mereka tidak peduli dengan modernitas.

Tokoh-tokoh yang berperan besar dalam perkembangan arsitektur Canonic Classicism adalah Quinlan Terry, John Blateau, Christian Langlois, Henry Cobb, Allan Greenberg, Geoffrey Scotts, Raymonderith dan John Barrington.

B. Modern Traditionalism.

Pada awalnya, nilai modernitas hanya sebagai perpanjangan tangan, alat penyaring terhadap nilai-nilai tradisional dan budaya, sehingga seringkali timbul kombinasi antara nilai tradisi dan nilai modernitas. Hasil yang didapat “melenceng”, baik dari nilai tradisi yang penuh makna dan simbolis maupun dari nilai modernitas yang kaku dan monoton, dan hasilnya yang besar adalah sebuah aliran yang berasal dari pencampuran, dimana pada akhirnya disebut sebagai aliran Modern Traditionalism. Oleh karena itulah, arsitektur Modern Traditionalism lebih cenderung dapat membuka diri terhadap kebudayaan lama sekaligus teknologi modern dan estetika, dimana merupakan gabungan antara tradisional dan modern (walau pada kenyataannya sedikit sekali unsur modern yang digunakan).

Unsur tradisional dan budaya yang paling sering digunakan adalah gaya Art Deco: sebuah campuran antara  Cubist-inspired European Modernism dengan penyederhanaan, bentuk ritmik yang sama, pengadopsian bentuk Pre-Columbian dan Navajo zigzag yang eksotis, permainan warna dan material yang bercahaya seperti plastik, aluminium, dan stainless steel dipadu dengan batu dan kayu yang terlihat mahal dan eksklusif.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam arsitektur Modern Traditionalism adalah Michael Graves, Stanley Tigermann, Stern & Taylor, Kohn Pederson Fox, Rose, Robert A.M Stern, John Outram, Gordon Smith, Kevin Roche dan Kliment & Halsband. Beberapa tokoh tersebut memiliki pendapat masing-masing mengenai ciri-ciri bangunan Modern Traditionalism.

-          Rose mengartikannya dengan ciri modern-nya berupa penggunaan teknologi modern dan menggunakan panel-panel yang polos, sedangkan pada ciri tradisionalnya menggunakan material yang tradisional untuk fasadenya, yakni berupa batu alam seperti grey stone, lime stone, dan lainnya.

-          John Outram menjelaskan ciri bangunan Modern Traditionalism secara berbeda. Ciri modern-nya tampak pada penggunaan rangka baja, system utilitas yang modern, system struktur yang modern serta penggunaan baja I. Sedangkan ciri tradisionalnya terlihat pada tampak bangunan yang menggunakan detail-detail tradisional, menggunakan material tradisional (bata), kolomnya besar (ciri khas struktur Yunani dan Romawi), juga adanya bentukan seperti pada jaman Mesir Kuno.

-          Sedangkan Robert A.M Stern, menjelaskan bahwa ciri modern bangunan arsitektur Modern Traditionalism terlihat pada struktur portal, penggunaan curtain wall kaca, kebutuhan ruang modern, yakni untuk office building. Ciri tradisionalnya terlihat adanya paviliun, finishing menggunakan bata, tampak bangunan mengesankan gaya Italian Renaissance dan Anglo-African Italianate, selain itu juga menggunakan material batu merah dan batu alam. Robert A.M Stern menjelaskan bahwa arsitektur Modern Traditionalism tidak bermaksud untuk membentuk atau membuat suatu aliran baru yang mandiri, namun aliran Modern Traditionalism ini adalah sebuah karya yang berpedoman pada perasaan dan hasil kombinasi dari segi modern dan pra modern. Bangunan karya Modern Traditionalism adalah sebuah hasil karya modern, namun bukan merupakan aliran modern itu sendiri.

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa bangunan yang beraliran Modern Traditionalism adalah aliran dimana bangunan tradisional tetap tampak seperti bangunan tradisional, padahal sebenarnya bangunan itu merupakan bagian dari suatu desain, teknologi, memiliki identitas yang estetikal dan momen sejarah. Sifat moral arsitektur ditinggalkan, berganti pada sesuatu yang lebih bersifat politis dan ideologis daripada bersifat structural dan real. Oleh karena itulah, arsitek masa kini berusaha mengubah seni yang individual atau ideal menjadi sesuai dengan teknik bangunan yang baru.

C. Ironic Classicism.

Aliran Ironic Classicism ini sebenarnya terletak di antara gaya klasik dan modern, sehingga mencerminkan kebudayaan yang heterogen pula. Elemen klasik atau tradisional banyak diterapkan pada tampak bangunan walaupun tidak sepenuhnya memiliki fungsionalisasi tertentu, melainkan hanya sebagai kepura-puraan belaka, meski ada sedikit kegunaannya.

Ironic Classicism sendiri disebut juga sebagai semiotic, dimana mereka selalu melawan standard dari bangunan kontemporer teknik dan cenderung menghilangkan massa. Masih terdapat hubungan dengan system-sistem tradisional, tapi juga masih ada sedikit perbedaan. Mereka menerima teknologi semata-mata karena segi ekonomi.

Elemen Classicism yang biasa digunakan adalah kolom, pedimen yang digunakan sebagai semiotic overlay, namun ironisnya terdapat kontradiksi modernist dan klasikal karena bangunan modernist merupakan estetik rasional simbolik yang dicapai lewat ekspresi struktur, sedangkan klasikisme tidak demikian halnya, karena mereka menganggap bahwa elemen dari arsitektur klasik adalah salah satu cara untuk memberi makna pada arsitektur, jadi elemen dari cultural yang selalu popular.

Tokoh-tokoh arsitek dalam aliran Ironic Classicism adalah Robert Venturi, James Stirling, Robert Graham, Charles Moore, Michael Graves, Phillip Johnson, Frank O. Gehry, Arata Isozaki, Terry Farrel, Charles Jenks dan Frank Israel.

-          Menurut Charles Jenks, dirinya menganut Free-Style Classicism, dimana terkandung perkembangan nilai-nilai tradisi dan budaya yang sebenranya bukan merupakan arsitektur klasik seperti gaya Mesir, Gothic, Mannerist dan Post Modern. Alasannya menggunakan style yang demikian adalah untuk tujuan filosofis dan nilai sejarah. Charles Jenks berpendapat bahwa bukan hanya sekedar keberadaan bentuk, proporsi, ornamen dan dinding saja, akan tetapi ada banyak overlapping untuk menunjukkan perhatian dan keinginan untuk menjadi bagian dari tradisi dan budaya klasik.

-          Robert Venturi, mengambil suatu gaya yang betul-betul lain arahnya, dimana gaya tersebut membawa dirinya ke ambang pintu Second Modernism. Dia mengeluarkan suatu pernyataan “less is bore”, karena menurutnya seharusnya sebuah arsitektur itu harus “hybrid”, tidak murni; menentang, tidak mengenai orang tertentu; rumit, tidak sederhana; tidak konsiten, tidak “bersih”; asli, bukan buatan. Ia menjelaskan bahwa gaya yang dia anut merupakan penangkal racun dari modernitas dan contoh dari praktek historical. Ia tidak pernah menerapkan suatu ornamen secara langsung ke dalam bangunannya karena ia menganggapnya terlalu mudah. Contoh bangunannya: Chestnut Hill House, Philadelphia (1962)

-          Charles Moore, salah seorang arsitek kawakan pada zaman Ironic Classicism menyatakan bahwa sebuah gedung haruslah betul-betul menampakkan fungsinya. Gaya yang dianutnya adalah Neoclassical extravaganza yang menyebabkan arsitektur Post Modern sebagai gerakan yang mengambil alih dunia arsitektur yang progresif. Contoh bangunannya: Piazza d`Italia, New Orleans (1975).

-          Michael Graves, banyak orang berpendapat bahwa tidak ada arsitek kontemporer lainnya yang seperti Michael Graves, yang pernah memasukkan unsur tradisional dan budaya yang arcuated dan trabeated, atau yang menciptakan suatu desain yang sedemikian “bertenaga” dan imagi yang penuh mistery.  Graves mengatakan bahwa sudah sejak kecil, sehingga tidaklah mengherankan bagi kita saat kita melihat hasil karyanya, Portland Building, mengingatkan kita pada  warna-warna kesukaan anak-anak. Ia menyukai struktur yang simple, seperti mainan balok anak-anak dan memiliki bentukan tradisional atau klasik yang indah. Gaya klasik yang banyak dipakainya dalam bangunannya adalah Neoclassical.

-          James Stirling, hasil rancangannya lain dari para arsitek Ironic Classicism lainnya. Ia menghasilkan hasil rancangan yang keluar dari aturan, seolah-olah ia ingin menggebrak semua aturan yang berlaku selama ini. Gayanya yang seolah-olah ingin memberontak ternyata diimbangi dengan memasukkan unsure-unsur tradisional dalam bangunannya. Hal ini nampak pada pemakaian batu sebagai system konstruksi utamanya. Contoh bangunannya: Neue Staatsgalerie, Stuttgart (1977).

-          Phillip Johnson, adalah seorang arsitek yang penuh semangat dari Amerika. Ia menganut aliran klasik modern. Sebenarnya ia adalah seorang yang kritis dan berani, namun terkadang kekritisannya itu tidak diimbangi dengan keegoisannya, sehingga seringkali ia akhirnya menemui jalan buntu dalam menciptakan suatu hasil karya. Hasil karyanya yang terkenal adalah AT & T Building, dimana ia menunjukkan adanya paling tidak tiga bentuk tradisional atau klasikal. Yang pertama pada fasade utamanya yang mengambil gaya Brunelleschi`s Pazzi Chapel (dengan ekstra loggia bays), pada bagian interior, terlihat adanya unsure tradisional Roma termasuk dekorasinya dan pada area lobby dapat terlihat adanya nilai historical Perancis pada abad ke 18.

-          Arata Isozaki, seorang arsitek Jepang yang pada masa Ironic Classicism banyak sekali menghasilkan bangunan-bangunan yang bernafaskan Jepang-modern. Ia banyak mengambil bentukan-bentukan dari unsure tradisional luar negeri, dan menggabungkannya dengan arsitektur Jepang yang penuh dengan makna pada setiap goresannya. Isozaki lebih banyak memikirkan desainnya agar orang dapat langsung melihat hasil bangunannya sebagai bangunan tradisional, dan itu tidak terbatas pada unsure tradisional Jepang saja. Contoh bangunannya: Fujimi Country Club, Oita (1973).

D. Latent Classicism.

Terdapat banyak penonjolan aspek modern dalam hal pemilihan warna, bahan, tekstur, proporsi (dalam wujud bangunan banyak mengambil tradisi modern), sedangkan aspek tradisional hanya diterapkan pada aturan-aturannya. Inilah pengertian dari arsitektur Latent Classicism.

Secara umum ciri-ciri utamanya adalah memadu madankan komposisi klasik dengan hasil teknologi modern. Bangunan-bangunannya cenderung menentang Le Corbusier dan condong ke arah “Banal”, sedangkan strukturnya lebih condong ke arah Auguste Perret dan disesuaikan dengan pemandangan Paris. Latent Classicism ingin merealisasikan Modern Classicism (pada zaman modern) dengan teknik bangunan yang lebih kontemporer. Konstruksinya sendiri merupakan gabungan dari bentuk-bentuk yang sudah ada, pada tampak bangunannya tidak terlihat adanya elemen-elemen ornamentalis dan menggunakan semaksimal mungkin bentuk-bentuk dari aliran klasik.

Tokoh-tokoh arsitek pada zaman Latent Classicism antara lain adalah Jaquelin Robertson, Taft Architect, Mario Campi, Mario Botta, Auguste Perret dan Kevin Roche.

-          Auguste Perret, salah seorang arsiteknya memiliki kombinasi style antara neogothic style dan neoclassicism yang dipadukan dengan gaya modern. Violet le Duc dan Julien Guadet adalah orang-orang yang berjasa bagi Perret dalam menemukan “jati dirinya” dalam desainnya. Dalam pikirannya, beton dapat menjadi material yang membentuk “tubuh” bangunan yang ekspresif dan memiliki nilai tradisi dan budaya. Kontribusi Perret dalam dunia arsitektur menyebabkan dirinya disebut sebagai orang yang “mengubah beton menjadi material yang ningrat”. Contoh bangunannya adalah Notre Dame du Raincy.

-          Mario Botta, salah seorang arsitek pada zaman Latent Classicism memiliki style New Tuscan, sebagian karena memiliki struktur yang simpel sedangkan sebagian lainnya karena meliki sifat aristocrat dan proletar, sehingga bangunan yang ditampilkannya terlihat sederhana namun megah dan bersahaja. Contoh bangunannya adalah Culture Center in Chambery (1982) dan Museum of Modern Art (1990).

E. Fundamentalist Classicism.

Apabila Canonic Classicism adalah aliran arsitektur yang paling dekat dengan arsitektur tradisional, maka arsitektur Fundamentalist Classicism justru kebalikannya. Arsitektur Fundamentalist Classicism merupakan aliran arsitektur Purna Modern yang paling dekat dengan modernitas. Oleh sebab itulah, unsur klasik pada bangunan-bangunannya sudah lebih jauh ditinggalkan, yang tersisa adalah unsur modernism. Namun bagaimanapun juga, aturan tradisional masih diterapkan dalam penyusunan bangunannya.

Pengertian dari aliran Fundamentalist Classicism sendiri adalah suatu aliran yang mengikuti tradisi, perubahan kembali dalam arsitektur pada suatu waktu yang berurutan, berkaitan dengan permintaan untuk kembali ke asal, dimana ekspresi yang dipakai tidak lekang dimakan waktu.

Bangunan arsitektur Fundamentalist Classicism lebih mementingkan logika dan komposisi massa bangunan, memberi penekanan pada pemberian esensi dari bentuk-bentuk arsitektur, yakni dengan tidak mengabaikan ornamen, namun juga tidak mengeksposnya secara berlebihan. Selain itu, bangunan Fundamentalist Classicism dianggap berasal dari struktur dan konstruksi, karya-karyanya seolah-olah tidak memerlukan detail, karena ingin memurnikan bentuk-bentuk geometric, terdapat sedikit dari ciri regionalism atau menyesuaikan dengan daerah dimana arsitektur itu berdiri. Selain itu terdapat pula bentuk-bentuk portico. Bangunan Fundamentalist Classicism ini lebih mementingkan fungsionalisasi bangunan dan berusaha mencari classicism yang abadi. Beberapa lingkup masyarakat menyebut Fundamentalist Classicism dengan nama Neo-Rationalist.

Arsitek-arsitek yang terkenal pada zaman arsitektur Fundamentalist Classicism adalah Aldo Rossi, Rafael Moneo, Miguel Garray & Jose I Linazaroso, Batey & Mack, Duany & Plater Zyberk, Alexander Tzannes, Demetri Porphyrious dan Robin Esple Dods.

-          Aldo Rossi, memiliki pengertian arsitektur Fundamentalist Classicism sebagai cult-figure status sebagai pedoman dalam pengertian yang “miskin”, dan ia bangga disebut sebagai seorang yang Neo-Rationalist. Ia menggunakan analogy dan rasio dalam mendesain bangunannya yang rata-rata beraliran Fundamentalist Classicism. Aldo Rossi percaya bahwa suatu nilai sejarah bukanlah sesuatu yang sederhana, melainkan sesuatu yang terus menerus berhubungan (a series of things) dari obyek-obyek yang “mengharukan” untuk digunakan sebagai kenangan di dalam desain. Contoh karyanya adalah: Casa Aurora, Turin (1984)

-          Miguel Garray & Jose-Igancio Linazaroso adalah dua orang arsitek yang bekerja sama dalam mendesain bangunan Fundamentalist Classicism. Bagi mereka, bukanlah hal yang sulit untuk memasukkan ornamen-ornamen atau nilai tradisional dan budaya dalam bangunan mereka, asalkan hal itu menambah “gaya” dalam bangunannya. Nilai historis tidak diabaikan, namun penempatannya dalam bangunan tetap dipertimbangkan agar “cocok” di dalam bangunan.

-          Contoh karya bersama mereka adalah: School at Ikastola, Basque Country & Town Hall (1981).Contoh karya Garray: Casa Mendiola, Andoian, Basque Country (1978). Contoh karya Linazaroso: Main Square at Azcoita (1982).

-          Sedangkan Demetri Porphyrios berpendapat bahwa saat kita melihat suatu bangunan, ada dua hal yang kita pikirkan yakni kegunaannya dan bagaimana bangunan tersebut berfungsi. Menurutnya, teknik konstruksi dan penempatan alat perlindungan (tempat bernaung) yang luas adalah pedoman yang utama dalam membangun. “Bunyi” bangunan akan menunjukkan “solusi” yang sama atau tipical, karakteristik yang formal menunjukkan nilai-nilai simboliknya. Contoh bangunannya adalah: Highgate Pavilion, London (1981).

-          Rafael Moneo adalah seorang yang mengidolakan Aldo Rossi. Ia turut menggunakan analogy dan rasio dalam desainnya. Contoh bangunannya adalah: National Museum of Roman Art, Merida (1985).

-          Duany & Plater Zyberk menggunakan seminimal mungkin ornamen-ornamen atau detail-detail tradisional, padahal bangunan yang diciptakannya adalah bangunan yang bernafaskan tradisional. Hal ini yang menyebabkan hasil karya kedua orang ini kurang diminati karena menimbulkan perasaan jengah dan sebal karena minimnya unsur-unsur tradisional yang dipakainya dalam bangunannya. Hasil karya kedu orang ini sebetulnya lebih cenderung ke arah arsitektur modern.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: