Analogi Yang Digunakan Dalam Teori Arsitektur

26 10 2010

Dalam memandang aresitektur para ahli teori seringkali membuat analogi-analogi dengan menganggap arsitektur sebagai sesuatu yang ‘organis’, arsitektur sebagai ‘bahasa’, atau arsitektur sebagai ‘mesin’. Secara singkat analogi-analogi yang seringkali digunakan untuk menjelaskan arsitektur adalah sebagai berikut :

Analogi Matematis

Beberapa ahli teori menganggap bahwa bangunan-bangunan yang dirancang dengan bentuk-bentuk murni, ilmu hitung dan geometri (seperti golden section) akan sesuai dengan tatanan alam semesta dan merupakan bentuk yang paling indah. Prinsip-prinsip ini banyak digunakan pada bangunan jaman Renaissance.

Analogi Biologis

Pandangan para ahli teori yang menganalogikan arsitektur sebagai analogi biologis berpendapat bahwa membangun adalah proses biologis…bukan proses estetis. Analogi biologis terdiri dari dua bentuk yaitu ‘organik’ (dikembangkan oleh Frank Lloyd Wright). Bersifat umum ; terpusat pada hubungan antara bagian-bagian bangunan atau antara bangunan dengan penempatannya/penataannya. dan ‘biomorfik’. Lebih bersifat khusus. ; terpusat pada pertumbuhan proses-proses dan kemampuan gerakan yang berhubungan dengan organisme.

Arsitektur organik FL Wright mempunyai 4 karakter sifat ;

a. Berkembang dari dalam ke luar, harmonis terhadap sekitarnya dan tidak dapat dipakai begitu saja.

b, Pembangunan konstruksinya timbul sesuai dengan bahan-bahan alami, apa adanya (kayu sebagai      kayu, batu sebagai batu, dll).

c. Elemen-elemen bangunannya bersifat terpusat (integral).

d. Mencerminkan waktu, massa, tempat dan tujuan.

Secara asli dalam arsitektur istilah organik berarti sebagian  untuk keseluruhan – keseluruhan untuk sebagian. Arsitektur Biomorfik kurang terfokus terhadap hubungan antara bangunan dan lingkungan dari pada terhadap proses-proses dinamik yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perubahan organisme. Biomorfik arsitektur berkemampuan untuk berkembang dan tumbuh melalui : perluasan, penggandaan, pemisahan, regenerasi dan perbanyakan. Contoh : kota yang dapat dimakan (Rudolf Doernach), struktur pnemuatik yang bersel banyak (Fisher, Conolly, Neumark, dll).

 

Analogi Romantik

Arsitektur harus mampu menggugah tanggapan emosional dalam diri si pengamat. Hal ini dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan menimbulkan asosiasi (mengambil rujukan dari bentuk-bentuk alam, dan masa lalu yang akan menggugah emosi pengamat) atau melalui pernyataan yang dilebih-lebihkan (penggunaan kontras, ukuran, bentuk yang tidak biasa yang mampu menggugah perasaan takut, khawatir, kagum dan lain-lain).

 

Analogi Linguistik

Analogi linguistik menganut pandangan bahwa bangunan-bangunan dimaksudkan untuk menyampaikan informasi kepada para pengamat dengan salah satu dari tiga cara sebagai berikut :

a. Model Tata bahasa

Arsitektur dianggap terdiri dari unsur-unsur (kata-kata) yang ditata menurut aturan (tata bahasa dan sintaksis) yang memungkinkan masyarakat dalam suatu kebudayaan tertentu cepat memahami dan menafsirkaa apa yang disampaikan oleh bangunan tersebut. lni akan tercapai jika ‘bahasa’ yang digunakan adalah bahasa umum/publik yang dimengerti semua orang (langue).

b. Model Ekspresionis

Dalam hal ini bangunan dianggap sebagai suatu wahana yanng digunakan arsitek untuk mengungkapakan sikapnya terhadap proyek bangunan tersebut. Dalam hal ini arsitek menggunakan ‘bahasa’nya pribadi (parole). Bahasa tersebut mungkin dimengerti orang lain dan mungkin juga tidak.

c. Model Semiotik

Semiologi adalah ilmu tentang tanda-tanda. Penafsiran semiotik tentang arsitektur menyatakan bahwa suatu bangunan merupakan suatu tanda penyampaian informasi mengenai apakah ia sebenarnya dan apa yang dilakukannya. Sebuah bangunan berbentuk bagaikan piano akan menjual piano. Sebuah menara menjadi tanda bahwa bangunan itu adalah gereja.

 

Analogi Mekanik

Menurut Le Corbusirr, sebuah rumah adalah mesin untuk berhuni merupakan contoh analogi mekanik dalam arsitektur. Bangunan seperti halnya dengan mesin hanya akan menunjukkan apa sesungguhnya mereka, apa yang dilakukan, tidak menyembunyikan fakta melalui hiasan yang tidak relevan dengan bentuk dan gaya-gaya, atau dengan kata lain keindahan adalah fungsi yang akan menyatakan apakah mereka itu dan apa yang mereka lakukan.

 

Analogi Pemecahan Masalah

Arsitektur adalah seni yang menuntut lebih banyak penalaran daripada ilham, dan lebih banyak pengetahuan faktual daripada semangat (Borgnis, 1823). Pendekatan ini sering juga disebut dengan pendekatan rasionalis, logis, sistematik, atau parametrik. Pendekatan ini menganggap bahwa kebutuhan-kebutuhan lingkungan merupakan masalah yang dapat diselesaikan melalui analisis yang seksama dan prosedur-prosedur yang khusus dirumuskan untuk itu.

 

Analogi Adhocis

Arsitektur berarti menanggapi kebutuhan langsung dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh tanpa membuat rujukan dan cita-cita.

 

Analogi Bahasa Pola

Manusia secara biologis adalah serupa, dan dalam suatu kebudayaan tertentu terdapat kesepakatan-kesepakatan untuk perilaku dan juga untuk bangunan. Jadi arsitektur harus mampu mengidentifikasi pola-pola baku kebutuhan-kebutuhan agar dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Pendekatan tipologis atau pola menganggap bahwa hubungan lingkungan perilaku dapat dipandang dalam pengertian satuan-satuan yang digabungkan untuk membangun sebuah bangunan atau suatu rona kota.

 

Analogi Dramaturgi

Kegiatan-kegiatan manusia dinyatakan sebagai teater dimana seluruh dunia adalah panggungnya, karena itu lingkungan buatan dapat dianggap sebagai pentas panggung. Manusia memainkan peranan dan bangunan-bangunan merupakan rona panggung dan perlengkapan yang menunjang pagelaran panggung. Analogi dramaturgi digunakan dengan dua cara, dari titik pandang para aktor dan dari titik pandang para dramawan. Dalam hal pertama arsitek menyediakan alat-alat perlengkapan dan rona-rona yang diperlukan untuk memainkan suatu peranan tertentu. Dari titik pandang para dramawan, arsitek dapat menyebabkan orang bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan memberikan petunjuk-petunjuk visual. Pemanfaatan analogi dramaturgi ini membuat sang arsitek yang bertindak hampir seperti dalang, mengatur aksi seraya menunjangnya.

Jika kita amati perkembangannya (berdasarkan teori dan pandangan-pandangan di atas), masalah arsitektur adalah masalah yang berkaitan dengan fungsi, komunikasi dan keindahan. Mana yang paling penting, fungsi atau keindahan dan komunikasi sebagai sarana pemuasan emosional ,atau kedua-duanya? Setiap orang berhak untuk mengambil sikap atas pertanyaan ini. Cara pandang pemakai, pengamat dan arsitek seringkali tidak sama bahkan bertentangan. Oleh pemakai, arsitektur pada awalnya hanya dipandang sebagai obyek/produk/hasil yang muncul karena kebutuhan semata (untuk melindungi diri dari alam). Selanjutnya arsitektur dianggap harus memiliki nilai-nilai lain seperti komunikasi dan keindahan yang merupakan sarana pemuasan ’emosi’ (bagi pemakai, pengamat, atau arsitek?). Masalah fungsi, komunikasi dan estetika selalu menjadi perdebatan sejak jaman Barok, Renaissance sampai ke jaman arsitektur Post Modern. Persepsi nilai-nilai ini sangat berbeda sesuai dengan perbedaan budaya, masyarakat, tempat, teknologi, dan waktu.





Arsitektur Purna Modern

25 09 2010

Pengklasifikasian Arsitektur Purna-modern

A. Canonic Classicism.

Keberadaan Canonic Classicism, yang merupakan salah satu aliran arsitektur Purna Modern yang sangat dekat dengan budaya dan tradisi, seakan-akan menjadi “obat” bagi kejenuhan terhadap bentuk arsitektur Modern yang monoton. Hal ini dikarenakan arsitektur Canonic Classicism ini lebih menonjolkan wujud bangunan klasik, sementara unsur modern-nya lebih tampak pada bahan bangunan, maupun aturan dalam membangun.

Arti kata dari canonic adalah pengumpulan peraturan-peraturan atau data-data atau dalih-dalih agama.  Dalam kamus juga berarti pengumpulan norma atau ukuran-ukuran. Jadi arti kata Canonic Classicism sendiri berarti pengumpulan nilai-nilai, ukuran-ukuran dari tradisi dan budaya.

Pendekatan utama yang dianut oleh aliran arsitektur Purna Modern adalah tiga prinsip utama Vitruvius, yakni fungsi, kekokohan dan keindahan. Sedangkan yang paling ditekankan dalam arsitektur Canonic Classicism adalah segi keindahan. Para penganut Canonic Classicism yakin bahwa gaya klasik adalah bahasa yang terpenting, sehingga terdapat kecenderungan bahwa mereka tidak peduli dengan modernitas.

Tokoh-tokoh yang berperan besar dalam perkembangan arsitektur Canonic Classicism adalah Quinlan Terry, John Blateau, Christian Langlois, Henry Cobb, Allan Greenberg, Geoffrey Scotts, Raymonderith dan John Barrington.

B. Modern Traditionalism.

Pada awalnya, nilai modernitas hanya sebagai perpanjangan tangan, alat penyaring terhadap nilai-nilai tradisional dan budaya, sehingga seringkali timbul kombinasi antara nilai tradisi dan nilai modernitas. Hasil yang didapat “melenceng”, baik dari nilai tradisi yang penuh makna dan simbolis maupun dari nilai modernitas yang kaku dan monoton, dan hasilnya yang besar adalah sebuah aliran yang berasal dari pencampuran, dimana pada akhirnya disebut sebagai aliran Modern Traditionalism. Oleh karena itulah, arsitektur Modern Traditionalism lebih cenderung dapat membuka diri terhadap kebudayaan lama sekaligus teknologi modern dan estetika, dimana merupakan gabungan antara tradisional dan modern (walau pada kenyataannya sedikit sekali unsur modern yang digunakan).

Unsur tradisional dan budaya yang paling sering digunakan adalah gaya Art Deco: sebuah campuran antara  Cubist-inspired European Modernism dengan penyederhanaan, bentuk ritmik yang sama, pengadopsian bentuk Pre-Columbian dan Navajo zigzag yang eksotis, permainan warna dan material yang bercahaya seperti plastik, aluminium, dan stainless steel dipadu dengan batu dan kayu yang terlihat mahal dan eksklusif.

Tokoh-tokoh yang berperan dalam arsitektur Modern Traditionalism adalah Michael Graves, Stanley Tigermann, Stern & Taylor, Kohn Pederson Fox, Rose, Robert A.M Stern, John Outram, Gordon Smith, Kevin Roche dan Kliment & Halsband. Beberapa tokoh tersebut memiliki pendapat masing-masing mengenai ciri-ciri bangunan Modern Traditionalism.

–          Rose mengartikannya dengan ciri modern-nya berupa penggunaan teknologi modern dan menggunakan panel-panel yang polos, sedangkan pada ciri tradisionalnya menggunakan material yang tradisional untuk fasadenya, yakni berupa batu alam seperti grey stone, lime stone, dan lainnya.

–          John Outram menjelaskan ciri bangunan Modern Traditionalism secara berbeda. Ciri modern-nya tampak pada penggunaan rangka baja, system utilitas yang modern, system struktur yang modern serta penggunaan baja I. Sedangkan ciri tradisionalnya terlihat pada tampak bangunan yang menggunakan detail-detail tradisional, menggunakan material tradisional (bata), kolomnya besar (ciri khas struktur Yunani dan Romawi), juga adanya bentukan seperti pada jaman Mesir Kuno.

–          Sedangkan Robert A.M Stern, menjelaskan bahwa ciri modern bangunan arsitektur Modern Traditionalism terlihat pada struktur portal, penggunaan curtain wall kaca, kebutuhan ruang modern, yakni untuk office building. Ciri tradisionalnya terlihat adanya paviliun, finishing menggunakan bata, tampak bangunan mengesankan gaya Italian Renaissance dan Anglo-African Italianate, selain itu juga menggunakan material batu merah dan batu alam. Robert A.M Stern menjelaskan bahwa arsitektur Modern Traditionalism tidak bermaksud untuk membentuk atau membuat suatu aliran baru yang mandiri, namun aliran Modern Traditionalism ini adalah sebuah karya yang berpedoman pada perasaan dan hasil kombinasi dari segi modern dan pra modern. Bangunan karya Modern Traditionalism adalah sebuah hasil karya modern, namun bukan merupakan aliran modern itu sendiri.

Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa bangunan yang beraliran Modern Traditionalism adalah aliran dimana bangunan tradisional tetap tampak seperti bangunan tradisional, padahal sebenarnya bangunan itu merupakan bagian dari suatu desain, teknologi, memiliki identitas yang estetikal dan momen sejarah. Sifat moral arsitektur ditinggalkan, berganti pada sesuatu yang lebih bersifat politis dan ideologis daripada bersifat structural dan real. Oleh karena itulah, arsitek masa kini berusaha mengubah seni yang individual atau ideal menjadi sesuai dengan teknik bangunan yang baru.

C. Ironic Classicism.

Aliran Ironic Classicism ini sebenarnya terletak di antara gaya klasik dan modern, sehingga mencerminkan kebudayaan yang heterogen pula. Elemen klasik atau tradisional banyak diterapkan pada tampak bangunan walaupun tidak sepenuhnya memiliki fungsionalisasi tertentu, melainkan hanya sebagai kepura-puraan belaka, meski ada sedikit kegunaannya.

Ironic Classicism sendiri disebut juga sebagai semiotic, dimana mereka selalu melawan standard dari bangunan kontemporer teknik dan cenderung menghilangkan massa. Masih terdapat hubungan dengan system-sistem tradisional, tapi juga masih ada sedikit perbedaan. Mereka menerima teknologi semata-mata karena segi ekonomi.

Elemen Classicism yang biasa digunakan adalah kolom, pedimen yang digunakan sebagai semiotic overlay, namun ironisnya terdapat kontradiksi modernist dan klasikal karena bangunan modernist merupakan estetik rasional simbolik yang dicapai lewat ekspresi struktur, sedangkan klasikisme tidak demikian halnya, karena mereka menganggap bahwa elemen dari arsitektur klasik adalah salah satu cara untuk memberi makna pada arsitektur, jadi elemen dari cultural yang selalu popular.

Tokoh-tokoh arsitek dalam aliran Ironic Classicism adalah Robert Venturi, James Stirling, Robert Graham, Charles Moore, Michael Graves, Phillip Johnson, Frank O. Gehry, Arata Isozaki, Terry Farrel, Charles Jenks dan Frank Israel.

–          Menurut Charles Jenks, dirinya menganut Free-Style Classicism, dimana terkandung perkembangan nilai-nilai tradisi dan budaya yang sebenranya bukan merupakan arsitektur klasik seperti gaya Mesir, Gothic, Mannerist dan Post Modern. Alasannya menggunakan style yang demikian adalah untuk tujuan filosofis dan nilai sejarah. Charles Jenks berpendapat bahwa bukan hanya sekedar keberadaan bentuk, proporsi, ornamen dan dinding saja, akan tetapi ada banyak overlapping untuk menunjukkan perhatian dan keinginan untuk menjadi bagian dari tradisi dan budaya klasik.

–          Robert Venturi, mengambil suatu gaya yang betul-betul lain arahnya, dimana gaya tersebut membawa dirinya ke ambang pintu Second Modernism. Dia mengeluarkan suatu pernyataan “less is bore”, karena menurutnya seharusnya sebuah arsitektur itu harus “hybrid”, tidak murni; menentang, tidak mengenai orang tertentu; rumit, tidak sederhana; tidak konsiten, tidak “bersih”; asli, bukan buatan. Ia menjelaskan bahwa gaya yang dia anut merupakan penangkal racun dari modernitas dan contoh dari praktek historical. Ia tidak pernah menerapkan suatu ornamen secara langsung ke dalam bangunannya karena ia menganggapnya terlalu mudah. Contoh bangunannya: Chestnut Hill House, Philadelphia (1962)

–          Charles Moore, salah seorang arsitek kawakan pada zaman Ironic Classicism menyatakan bahwa sebuah gedung haruslah betul-betul menampakkan fungsinya. Gaya yang dianutnya adalah Neoclassical extravaganza yang menyebabkan arsitektur Post Modern sebagai gerakan yang mengambil alih dunia arsitektur yang progresif. Contoh bangunannya: Piazza d`Italia, New Orleans (1975).

–          Michael Graves, banyak orang berpendapat bahwa tidak ada arsitek kontemporer lainnya yang seperti Michael Graves, yang pernah memasukkan unsur tradisional dan budaya yang arcuated dan trabeated, atau yang menciptakan suatu desain yang sedemikian “bertenaga” dan imagi yang penuh mistery.  Graves mengatakan bahwa sudah sejak kecil, sehingga tidaklah mengherankan bagi kita saat kita melihat hasil karyanya, Portland Building, mengingatkan kita pada  warna-warna kesukaan anak-anak. Ia menyukai struktur yang simple, seperti mainan balok anak-anak dan memiliki bentukan tradisional atau klasik yang indah. Gaya klasik yang banyak dipakainya dalam bangunannya adalah Neoclassical.

–          James Stirling, hasil rancangannya lain dari para arsitek Ironic Classicism lainnya. Ia menghasilkan hasil rancangan yang keluar dari aturan, seolah-olah ia ingin menggebrak semua aturan yang berlaku selama ini. Gayanya yang seolah-olah ingin memberontak ternyata diimbangi dengan memasukkan unsure-unsur tradisional dalam bangunannya. Hal ini nampak pada pemakaian batu sebagai system konstruksi utamanya. Contoh bangunannya: Neue Staatsgalerie, Stuttgart (1977).

–          Phillip Johnson, adalah seorang arsitek yang penuh semangat dari Amerika. Ia menganut aliran klasik modern. Sebenarnya ia adalah seorang yang kritis dan berani, namun terkadang kekritisannya itu tidak diimbangi dengan keegoisannya, sehingga seringkali ia akhirnya menemui jalan buntu dalam menciptakan suatu hasil karya. Hasil karyanya yang terkenal adalah AT & T Building, dimana ia menunjukkan adanya paling tidak tiga bentuk tradisional atau klasikal. Yang pertama pada fasade utamanya yang mengambil gaya Brunelleschi`s Pazzi Chapel (dengan ekstra loggia bays), pada bagian interior, terlihat adanya unsure tradisional Roma termasuk dekorasinya dan pada area lobby dapat terlihat adanya nilai historical Perancis pada abad ke 18.

–          Arata Isozaki, seorang arsitek Jepang yang pada masa Ironic Classicism banyak sekali menghasilkan bangunan-bangunan yang bernafaskan Jepang-modern. Ia banyak mengambil bentukan-bentukan dari unsure tradisional luar negeri, dan menggabungkannya dengan arsitektur Jepang yang penuh dengan makna pada setiap goresannya. Isozaki lebih banyak memikirkan desainnya agar orang dapat langsung melihat hasil bangunannya sebagai bangunan tradisional, dan itu tidak terbatas pada unsure tradisional Jepang saja. Contoh bangunannya: Fujimi Country Club, Oita (1973).

D. Latent Classicism.

Terdapat banyak penonjolan aspek modern dalam hal pemilihan warna, bahan, tekstur, proporsi (dalam wujud bangunan banyak mengambil tradisi modern), sedangkan aspek tradisional hanya diterapkan pada aturan-aturannya. Inilah pengertian dari arsitektur Latent Classicism.

Secara umum ciri-ciri utamanya adalah memadu madankan komposisi klasik dengan hasil teknologi modern. Bangunan-bangunannya cenderung menentang Le Corbusier dan condong ke arah “Banal”, sedangkan strukturnya lebih condong ke arah Auguste Perret dan disesuaikan dengan pemandangan Paris. Latent Classicism ingin merealisasikan Modern Classicism (pada zaman modern) dengan teknik bangunan yang lebih kontemporer. Konstruksinya sendiri merupakan gabungan dari bentuk-bentuk yang sudah ada, pada tampak bangunannya tidak terlihat adanya elemen-elemen ornamentalis dan menggunakan semaksimal mungkin bentuk-bentuk dari aliran klasik.

Tokoh-tokoh arsitek pada zaman Latent Classicism antara lain adalah Jaquelin Robertson, Taft Architect, Mario Campi, Mario Botta, Auguste Perret dan Kevin Roche.

–          Auguste Perret, salah seorang arsiteknya memiliki kombinasi style antara neogothic style dan neoclassicism yang dipadukan dengan gaya modern. Violet le Duc dan Julien Guadet adalah orang-orang yang berjasa bagi Perret dalam menemukan “jati dirinya” dalam desainnya. Dalam pikirannya, beton dapat menjadi material yang membentuk “tubuh” bangunan yang ekspresif dan memiliki nilai tradisi dan budaya. Kontribusi Perret dalam dunia arsitektur menyebabkan dirinya disebut sebagai orang yang “mengubah beton menjadi material yang ningrat”. Contoh bangunannya adalah Notre Dame du Raincy.

–          Mario Botta, salah seorang arsitek pada zaman Latent Classicism memiliki style New Tuscan, sebagian karena memiliki struktur yang simpel sedangkan sebagian lainnya karena meliki sifat aristocrat dan proletar, sehingga bangunan yang ditampilkannya terlihat sederhana namun megah dan bersahaja. Contoh bangunannya adalah Culture Center in Chambery (1982) dan Museum of Modern Art (1990).

E. Fundamentalist Classicism.

Apabila Canonic Classicism adalah aliran arsitektur yang paling dekat dengan arsitektur tradisional, maka arsitektur Fundamentalist Classicism justru kebalikannya. Arsitektur Fundamentalist Classicism merupakan aliran arsitektur Purna Modern yang paling dekat dengan modernitas. Oleh sebab itulah, unsur klasik pada bangunan-bangunannya sudah lebih jauh ditinggalkan, yang tersisa adalah unsur modernism. Namun bagaimanapun juga, aturan tradisional masih diterapkan dalam penyusunan bangunannya.

Pengertian dari aliran Fundamentalist Classicism sendiri adalah suatu aliran yang mengikuti tradisi, perubahan kembali dalam arsitektur pada suatu waktu yang berurutan, berkaitan dengan permintaan untuk kembali ke asal, dimana ekspresi yang dipakai tidak lekang dimakan waktu.

Bangunan arsitektur Fundamentalist Classicism lebih mementingkan logika dan komposisi massa bangunan, memberi penekanan pada pemberian esensi dari bentuk-bentuk arsitektur, yakni dengan tidak mengabaikan ornamen, namun juga tidak mengeksposnya secara berlebihan. Selain itu, bangunan Fundamentalist Classicism dianggap berasal dari struktur dan konstruksi, karya-karyanya seolah-olah tidak memerlukan detail, karena ingin memurnikan bentuk-bentuk geometric, terdapat sedikit dari ciri regionalism atau menyesuaikan dengan daerah dimana arsitektur itu berdiri. Selain itu terdapat pula bentuk-bentuk portico. Bangunan Fundamentalist Classicism ini lebih mementingkan fungsionalisasi bangunan dan berusaha mencari classicism yang abadi. Beberapa lingkup masyarakat menyebut Fundamentalist Classicism dengan nama Neo-Rationalist.

Arsitek-arsitek yang terkenal pada zaman arsitektur Fundamentalist Classicism adalah Aldo Rossi, Rafael Moneo, Miguel Garray & Jose I Linazaroso, Batey & Mack, Duany & Plater Zyberk, Alexander Tzannes, Demetri Porphyrious dan Robin Esple Dods.

–          Aldo Rossi, memiliki pengertian arsitektur Fundamentalist Classicism sebagai cult-figure status sebagai pedoman dalam pengertian yang “miskin”, dan ia bangga disebut sebagai seorang yang Neo-Rationalist. Ia menggunakan analogy dan rasio dalam mendesain bangunannya yang rata-rata beraliran Fundamentalist Classicism. Aldo Rossi percaya bahwa suatu nilai sejarah bukanlah sesuatu yang sederhana, melainkan sesuatu yang terus menerus berhubungan (a series of things) dari obyek-obyek yang “mengharukan” untuk digunakan sebagai kenangan di dalam desain. Contoh karyanya adalah: Casa Aurora, Turin (1984)

–          Miguel Garray & Jose-Igancio Linazaroso adalah dua orang arsitek yang bekerja sama dalam mendesain bangunan Fundamentalist Classicism. Bagi mereka, bukanlah hal yang sulit untuk memasukkan ornamen-ornamen atau nilai tradisional dan budaya dalam bangunan mereka, asalkan hal itu menambah “gaya” dalam bangunannya. Nilai historis tidak diabaikan, namun penempatannya dalam bangunan tetap dipertimbangkan agar “cocok” di dalam bangunan.

–          Contoh karya bersama mereka adalah: School at Ikastola, Basque Country & Town Hall (1981).Contoh karya Garray: Casa Mendiola, Andoian, Basque Country (1978). Contoh karya Linazaroso: Main Square at Azcoita (1982).

–          Sedangkan Demetri Porphyrios berpendapat bahwa saat kita melihat suatu bangunan, ada dua hal yang kita pikirkan yakni kegunaannya dan bagaimana bangunan tersebut berfungsi. Menurutnya, teknik konstruksi dan penempatan alat perlindungan (tempat bernaung) yang luas adalah pedoman yang utama dalam membangun. “Bunyi” bangunan akan menunjukkan “solusi” yang sama atau tipical, karakteristik yang formal menunjukkan nilai-nilai simboliknya. Contoh bangunannya adalah: Highgate Pavilion, London (1981).

–          Rafael Moneo adalah seorang yang mengidolakan Aldo Rossi. Ia turut menggunakan analogy dan rasio dalam desainnya. Contoh bangunannya adalah: National Museum of Roman Art, Merida (1985).

–          Duany & Plater Zyberk menggunakan seminimal mungkin ornamen-ornamen atau detail-detail tradisional, padahal bangunan yang diciptakannya adalah bangunan yang bernafaskan tradisional. Hal ini yang menyebabkan hasil karya kedua orang ini kurang diminati karena menimbulkan perasaan jengah dan sebal karena minimnya unsur-unsur tradisional yang dipakainya dalam bangunannya. Hasil karya kedu orang ini sebetulnya lebih cenderung ke arah arsitektur modern.





Masa Modern Akhir (1950-1960an)

25 09 2010

Titik awal kehancuran Arsitektur modern

Sekitar tahun 1960-an, pertentangan antara kedua aliran itu ( pro dan kontra tahun 1950 ) terjadi lagi. Inti permasalahannya adalah : untuk siapa sebenarnya arsitektur itu diciptakan?

Pertanda pertama ‘berakhirnya’ arsitektur modern adalah dengan meninggalnya keempat empu arsitektur modern di tahun 1950-an dan awal 1960-an. Karya-karya para empu itu kini telah menjadi sumber penjiplakan dan pendangkalan nilai-nilai modernisme. Arsitektur yang hadir dalam rupa yang geometriknya demikian jernih, polos dan sangat mudah dijiplak dengan menggunakan mesin gambar, mewabah ke segenap penjuru dunia. Idealisme yang terdapat di dalam karya para empu itu sudah lenyap karena yang sekarang muncul adalah ‘mass-production’ berupa modul yang boleh digandakan tanpa batas dan tanpa kenal lingkungan. Idealismenya kini adalah efisiensi sebesar mungkin laba dan seminimal mungkin investasi, arsitektur adalah sebuah bisnis, bukan jasa dan yang paling penting bagi tujuan rupa arsitektur adalah kotak yang telanjang bulat adalah pertanda kemodernan. Dengan gedung-gedung yang modern ini, apa yang terdapat di dalam tersaksikan dari luar, seluruh permukaan menjadi tanpa selimut atau baju (‘skin and bone’ belaka).

Ada satu unsur lain tahun 60-an yang cukup berpengaruh dalam dunia arsitektur namun baru diakui perannnya pada tahun 1990-an, yaitu ‘Mass Media’ ( media cetak, TV, film ). Media massa menjadi bagian dari arsitektur karena media massa menjadi wadah bagi kebebasan individual, alat diskusi / pertukaran dan penyebar-luasan ide. Media massa menjadi pemicu timbulnya Pluralisme atau ‘kemajemukkan’ yang menjadi bahan dasar Post-Modernisme.

Kelemahan Arsitektur Modern

Arsitektur modern dianggap memiliki kelemahan yang membuatnya tidak dapat eksis untuk jangka waktu yang lama. Kelemahan–kelemahan arsitektur modern yaitu:

  • Arsitektur  modern yang berdasarkan ilmu saja dianggap kaku atau tidak manusiawi.
  • Proses desain yang dijalani arsitek adalah proses produksi industri.
  • Arsitektur dianggap sebagai produk dimana tidak mempunyai makna, hanya berdayaguna saja.
  • Standardisasi industri menyebabkan hilangnya kreativitas.
  • Hilangnya ciri kedaerahan karena arsitektur modern adalah arsitektur “internasional“.
  • Arsitektur modern karena didukung revolusi industri maka diidentikkan dengan kapitalisme.

Intinya arsitektur modern mempunyai kelemahan terhadap sisi manusiawinya. Arsitektur modern dianggap tidak “menyentuh” manusia padahal manusia adalah pengguna karya arsitektur itu sendiri.

Aliran penentang Arsitektur Modern

  • Fungsionalisme; Menyatakan bahwa bentuk bangunan harus mengikuti pertimbangan yang praktis pada perancangan, struktur, dll. Dengan penekanan pada fungsi bangunan itu sendiri. Penganut fungsionalisme berusaha membuat bangunan bebas dari pengaruh berbagai macam style, baik yang dating dari luar, maupun bentuk-bentuk peninggalan sejarah, karena menurutnya, style akan menghambat berfungsinya bangunan secara efisien. Dengan demikian, karya yang dihasilkan merupakan karya yang orisinil, sentuhan dari arsiteknya.
  • Brutalisme (1960an) Salah satu penganutnya adalah Paul Rudolph yang menampilkan rupa arsitektur yang eksageratif. Brutalisme yang hadir di dasawarsa 1960-an dengan terang-terangan menghadirkan dirinya dengan dua sasaran yakni pertama, mencemooh International Style yang sudah sedemikian dangkalnya dalam menghadirkan arsitektur, yang kedua, mencoba untuk menyodorkan ‘obat penyembuh’ dengan ajakan untuk tidak melihat manusia sebagai robot tetapi sebagai insane yang memiliki emosi.

Contoh aliran modern akhir

International Style

Aliran international style merupakan suatu aliran dimana arsitektur modern menerima bentuk-bentuk dinamis yang dapat mengatasi keterikatan pada jaman neo klasik maupun perkembangan jaman berikutnya. Bangunan yang dibuat beraliran international style tidak memiliki suatu ciri khas tertentu penanda jaman, sehingga bangunannya dapat dikatakan sebagai bangunan dengan gaya sepanjang masa. Bangunannya sendiri terkesan sangat sederhana atau bersahaja. Lever House, New York oleh Skidmore, Owings & Merrill misalnya, adalah bangunan yang sangat sederhana dan bersahaja karena tanpa hiasan apapun juga, sehingga tidak mencirikan suatu aliran arsitektur tertentu.

Brutalisme

Dasawarsa 1960-an adalah dasawarsa yang ironik bagi perjalanan arsitektur modern. Dalam hal arsitektur telah menjadi sebuah corak arsitektur yang sangat rasionalistik, saat dasawarsa ini merupakan momentumdi mana corak arsitektur yang ilmiah tidak hanya mendapatkan tempat yang terhormat di sekolah dan laboratorium arsitektur; dalam praktek arsitektur, langgam yang bercirikan geometrik Platonik ini telah mampu mendunia. Bahkan, di Asia, Afrika dan Amerika Latin, langgam ini menjadi ikon dan lambang bagi kemerdekaan dan kebebasan dari penjajahan, serta menjadi alat bukti kemampuan bangsa-bangsa ini untuk sejajar dengan negara-negara maju. Di Indonesia misalnya, Hotel Indonesia, Hotel Bali Beach dan Hotel Pelabuhan Ratu; lalu kompleks Gelora Senayan dan rancangan Gedung Conefo yang sekarang menjadi Gedung DPR-MPR adalah tanda-tanda jaman dari arsitektur modern di Indonesia. Tentu, slogan ‘Bentuk Mengikuti Fungsi’ menjadi sebuah rumusan universal bagi kegiatan merancang yang dilakukan di nyaris semua sekolah arsitektur, tak peduli apakah slogan itu dimengerti dengan benar ataukah sudah mengalami pembelokan dan penyempitan pengertian.

Di Eropa dan Amerika Serikat, semenjak awal dasawarsa ini telah ditandai oleh berbagai gejolak sosial dan akademik, juga gejolak politik dan budaya. Berbagai demonstrasi mahasiswa, demonstrasi masyarakat yang memprotes pebongkaran bangunan lama untuk diganti dengan model gedung modern yang ternyata tak lebih estetik daripada bangunan lama yang dibongkar; dan protes arsitek-arsitek muda yang merasakan bahwa masa belajar yang pernah mereka jalani ternyata adalah masa belajar arsitektur yang terlalu mengekang kebebasan kreatif dalam berarsitektur; akhirnya memunculkan ragam arsitektur yang dikenal dengan sebutan ragam Brutalisme. Di samping ‘Brutal’ yang berarti kurang ajar, sebutan brutalisme ini juga dapat dimengerti sebagi sebutan yang berasal dari kata perancis ‘brut’ yang artinya adalah kasar, khususnya untuk wajah dari permukaan benda. Paul Rudolph dan James Stirling dalam masa awal karier mereka adalah dua nama yang menandai ragam brutalisme ini. Arsitektur modern sampai pada saat-saat akhirnya dengan hadirnya brutalisme ini. Dan bagi Charles Jencks, peristiwa perobohan perumahan Pruitt Igoe dicatatnya sebagai momentum dari matinya arsitektur modern. Sebagai karya arsitektur, bangunan ini sempat mendapat penghargaan tertinggi di bidang arsitektur di AS; dan dalam penggunaannnya perumahan ini mewakili kegagalan arsitektur modern dalam mengakomodasi kebutuhan pemenuhan sosiologik, kultural dan humanistik dari para pengguna arsitektur.





Periodisasi Arsitektur

25 08 2010

Menurut Budi Sukada, Periodisasi Arsitektur bisa diklasifikasikan sebagai berikut  :

a. Arsitektur Primitif :

– Paleolitikum (Old Stone Age)

– Mesolitikum (Midle Stone Age)

– Neolitikum (New Stone Age)

b. Arsitektur Purba :

– Awal       : Asia Kecil, Mesir, Mesopotamia, India, Cina, Amerika

– Lanjutan  : Laut Tengah, Yunani, Persia, Helenisme, Romawi

c. Arsitektur Agama-agama Besar :

– Hindu : Awal, Lanjutan

– Budha : Awal, Lanjutan

– Kristen : Yudaisme, Kristen Awal, Kristen Antik, Romanesk, Bizantin

– Islam : Awal, Khalifah Utama, Ummayah, Abbasiyah

d. Arsitektur Klasik :

– Revival

– Safawiyah

– Moghul

– Usmaniyah

– Kolonial

e. Modern :

– Neo Kolonial

– Gerakan Modern

– Internasional

– Modern Akhir

f. Pasca Modern :

– Populis

– Klasik Bebas/Post Modern

– Dekonstruksi

– Rekayasa Iptek

Perkembangan Arsitektur menurut Ciri Bentuk dan Karakter :

Primitif :

Bentuk tergantung kepada alam

– Paleolitikum (Old Stone Age)

– Mesolitikum (Midle Stone Age)

– Neolitikum (New Stone Age)

Tradisional :

Memiliki aturan yang digunakan secara turun temurun

Klasik :

Bentuk diilhami ilmu pengetahuan, matematik, ukur ruang

– Revival

– Safawiyah

– Moghul

– Usmaniyah

– Kolonial

Modern :
Revolusi industri XIX, bentuk simplitis, jujur

– Neo Kolonial

– Gerakan Modern

– Internasional

– Modern Akhir

Perkembangan Arsitektur menurut Peradaban :

Purba :

– Awal : Asia Kecil, Mesir, Mesopotamia, India, Cina, Amerika

– Lanjutan        : Laut Tengah, Yunani, Persia, Helenisme, Romawi

Agama Besar :

– Hindu : Awal, Lanjutan

– Budha : Awal, Lanjutan

– Kristen : Yudaisme, Kristen Awal, Kristen Antik, Romanesk, Bizantin

– Islam : Awal, Khalifah Utama, Ummayah, Abbasiyah

Klasik :

– Revival

– Safawiyah

– Moghul

– Usmaniyah

– Kolonial

Neo Klasik :

Modern :

– Neo Kolonial

– Gerakan Modern

– Internasional

– Modern Akhir

Pasca Modern :

– Populis

– Klasik Bebas/Post Modern

– Dekonstruksi

– Rekayasa Iptek





Arsitektur Post Modern

25 08 2010

I. Latar Belakang Arsitektur Post Modern

Arsitektur Akhir Modern

  • Munculnya aliran Purnamodern dan Neomodern

Purnamodern (Postmodern) dan Pascamodern (Latemodern) atau Neomodern adalah gebrakan arsitektur yang mencuat di tahun 1970-an, dan masih berlanjut hingga hari ini. Berbagai macam sebutan-sebutan itu memang menunjuk pada tindak lanjut arsitek dan pemikir arsitektur untuk mengkoreksi degradasi yang terjadi.

Sebenarnya kematian arsitektur modern, waktu yang rinci hingga angka menit itu hanyalah sebuah dramatisasi dari Charles Jencks atau hanya menunjuk pada angka tahun dimana gerakan akhir modern mengkristal menjadi sebuah gerakan yang tidak lagi kompensional. Karena sebenarnya kehadiran dari arsitektur modern itu sendiri diawali dengan langkah-langkah parsial dan komponensial dalam perubahannya (mulai dari kelompok pemikir Perancis di pertengahan abad 18, lalu hadirnya Crystal Palace dan menara Eiffel, disusul oleh Louis Sullivan dan Willian Morris), untuk pada akhirnya mengkristal menjdai gebrakan yang solid (masa arsitektur Mulamodern).

Satu hal lagi yang menjadi salah satu kemungkinan bagi penyebab matinya arsitektur modern adalah protes yang dilontarkan oleh masyarakat awam Eropa. Masyarakat awam Eropa mengganggap bahwa sebuah pembangunan yang didahului dengan pembongkaran atau penghancuran tidak perlu melibatkan campur tangan arsitek, sebarang orang awampun dapat melakukannya. Arsitek kini ditantang untuk ‘membangun tanpa merusak.’ Tantangan masyarakat Eropa ini pulalah yang ikut menyumbang bagi hadirnya gaya arsitektur Purnamodern, yakni arsitektur yang mendamaikan yang baru dengan yang lama.

  • Akhir dari Arsitektur Modern

Memang tidak mudah untuk mengatakan bahwa Purnamodern dan Neomodern itu menandai hari-hari akhir arsitektur modern. Dalam hal ini, beberapa pertimbangan haruslah disodorkan agar penetapan itu dapat dipertanggungjawabkan. Kalau kita menengok kembali buku sejarah yang ditulis oleh Sir Banister Fletcher, disana kita akan berhadapan  dengan sebutan yang juga berawal dengan ‘late’ seperti late-Roman dan late-Renaissance. Fletcher menggunakan awalan ‘late’ itu untuk menunjukkan keadaan sebuah gaya arsitektur yang sudah menvapai tahap akhir dari perjalanannya. Setelah tahap ‘late’ itu terjalani, muncullah gaya arsitektur baru. Kalau kesejajaran dengan Banister Fletcher ini dipakai sebagai pertimbangannya, maka tidaklah keliru untuk menangkap sebutan ‘late-modern’ sebagai tahap-tahap akhir dari perjalanan arsitektur modern.

Di bagian awal penjelajahan kita terhadap perjalanan arsitektur modern, kita telah memaksa diri untuk mengurus masa peralihan dari pra-modern, yakni arsitektur mula-modern. Di situ kita menyaksikan berbagai alternatif yang disodorkan sebagai pengganti dan pengoreksi atas arsitektur pramodern. Pergulatan untuk mengimbangi posisi arsitektur sebagai seni dengan posisi arsitektur sebagai olah penalaran disajikan dalam dua alternatif pokok. Yang pertama adalah alternatif pengkombinasian ornament/dekorasi dengan geometri (sebagaimana disodorkan oleh Sullivan dan Art Nouveau), sedangkan yang kedua adalah pengolahan yang artistic dan geometri (sebagaiman disampaikan oleh Konstruktivisme, Suprematisme dan De Stijl).

Kedua alternatif itu, dalam batas pemahaman elementer olah rupa arsitektur, nampaknya tak banyak berbeda dari apa yang dilaksanakan oleh Purnamodern (dalam kesetandingannya dengan Art Nouveau dan Sullivan), serta dengan yang dilakukan oleh dekonstruksi (dalam kesetandingannya dengan Konstruktivisme, Suprematisme dan De Stijl). Memang, bila dalam masa mulamodern upaya olah rupa dilakukan dalam semangat untuk menyertakan pernalaran arsitektur dalam arsitektur yang artistik, dalam masa akhirmodern semangatnya adalah  untuk menyertakan keartistikan dalam arsitektur yang terlalu berpihak pada nalar.

Kompleksitas, kontradiksi, hibrida dan berbagai ungkapan yang menunjuk pada keadaan yang tidak lagi monolit, monistik ataupun uniform dengan mudah tergelincir ke dalam keeklektikan. Para pengamat arsitektur dengan terang-terangan telah mengatakan bahwa tahap perjalanan arsitektur semenjak 1970-an ini adalah tahapan eklektik dari arsitektur modern. Jikalau dengan mencemooh eklektikisme di abad 18 dan 19 arsitektur lalu menghadirkan arsitektur yang baru yaitu arsitektur modern, apakah tidak mungkin hal yang sama berlangsung pula saat ini : kita tunggu hadirnya arsitektur yang baru karena kita sekarang berada dalam keeklektikan arsitektur.

II. Gambaran Ringkas tentang POST MODERN

Postmodern bisa dimengerti sebagai filsafat, pola berpikir, pokok berpikir, dasar berpikir, ide, gagasan, teori. Masing-masing menggelarkan pengertian tersendiri tantang dan mengenai Postmodern, dan karena itu tidaklah mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa postmodern itu berarti `sehabis modern’ (modern sudah usai); `setelah modern’ (modern masih berlanjut tapi tidak lagi populer dan dominan); atau yang mengartikan sebagai `kelanjutan modern’ (modern masih berlangsung terus, tetapi dengan melakukan penyesuaian/adaptasi dengan perkembangan dan pembaruan yang terjadi di masa kini).

Di dalam dunia arsitektur, Post Modern menunjuk pada suatu proses atau kegiatan dan dapat dianggap sebagai sebuah langgam, yakni langgam Postmodern. Dalam kenyataan hasil karya arsitekturnya, langgam ini muncul dalam tiga versi/sub-langgam yakni Purna Modern, Neo Modern, dan Dekonstruksi. Mengingat bahwa masing-masing pemakai dan pengikut dari sub-langgam/versi tersebut cenderung tidak peduli pada sub-langgam/versi yang lain, maka masing-masing menamakannya langgam purna-modern, langgam neo-modern dan langgam dekonstruksi.

Catatan: banyaknya pengertian maupun versi tentang postmodern ini memang telah membuat sejumlah pihak mengalami kebingungan, khususnya untuk menentukan siapa dan manakah yang dapat dipercaya atau dapat diandalkan sebagai yang benar.

III. Apa dan siapa Arsitektur PostModern

Arsitektur Post Modern tidak dapat dipisahkan dengan Arsitektur Modern karena Arsitektur Post Modern merupakan:

  1. Kelanjutan Arsitektur Modern
  2. Reaksi terhadap Arsitektur Modern
  3. Koreksi terhadap Arsitektur Modern
  4. Gerakan melengkapi dari apa yang masih belum terpenuhi dalam arsitektur Modern
  5. Menyodorkan alternatif sehingga arsitektur tidak hanya satu jalur saja
  6. Memberi kesempatan untuk menangani arsitektur dari kemungkinan-kemungkinan, pendekatan-pendekatan dan alternatif-alternatif yang lebih luas dan bebas

Dengan demikian mempelajari arsitektur Post Modern tidak bisa tanpa melalui Arsitektur Modern karena Arsitektur Post Modern merupakan langkah atau tindak lanjut terhadap evaluasi yang dilakukan mengenai arsitektur Modern. Arsitektur Post Modern merupakan arsitektur yang telah melakukan feed back / umpan balik terhadap Arsitertur Modern. Pemunculan Arsitektur Modern tidak seragam dan secara garis besar dapat dikelompokan dalam tiga ciri penampilan:

Purna Modern

–          Purna Modern merupakan pengindonesiaan dari post-modern versi Charles Jencks (ingat, pengertian veris Jencks itu berbeda dari pengertian umum dari `Post Modern’ yang digunakan dalam judul catatan kuliah ini)

–          Ditandai dengan munculnya ornamen, dekorasi dan elemen-elemen kuno (dari Pra Modern) tetapi dengan melakukan transformasi atas yang kuno tadi.

–          Menyertakan warna dan tekstur menjadi elemen arsitektur yang penting yang ikut diproses dengan bentuk dan ruang.

–          Tokohnya antara lain : Robert Venturi, Michael Graves, Terry Farrell

a.Pasca Modern Atau Neo Modern

–          Pada awalnya diberi nama Late Modern oleh Charles Jencks, dan diindonesiakan oleh Josef Prijotomo menjadi Pascamodern. Jadi, Pascamodern dan Neomodern adalah sinonim.

–          Tidak menampilkan ornamen dan dekorasi lama tetapi menojolkan Tektonika (The Art of Construction).  Arsitekturnya dimunculkan dengan memamerkan kecanggihan yang mutakhir terutama teknologi.

–          Sepintas tidak terlihat jauh berbeda dengan Arsitektur Modern yakni menonjolkan tampilan geometri.

–          Menampilkan bentuk-bentuk tri-matra sebagai hasil dari teknik proyeksi dwi matra (misal, tampak sebagai proyeksi dari denah). Tetapi, juga menghadirkan bentukan yang trimatra yang murni (bukan sebagai proyeksi dari bentukan yang dwimatra)

–          Tokohnya antara lain:  Richard Meier, Richard Rogers, Renzo Piano, Norman Foster.

–          Tampilan dominan bentuk geometri.

–          Tidak menonjolkan warna dan tekstur, mereka ini hanya ditampilkan sebagai aksen. Walaupun demikian, punya warna favorit yakni warna perak.

b. Dekontruksi

– Geometri juga dominan dalam tampilan tapi yang digunakan adalah geometri 3-D bukan dari hasil proyeksi 2-D sehingga muncul kesan miring dan semrawut.

– Tokohnya antara lain: Peter Eisenman, Bernard Tschumi, Zaha Hadid, Frank O’Gehry.

– Menggunakan warna sebagai aksen dalam komposisi sedangkan tekstur kurang berperan.

Pokok-pokok pikiran yang dipakai arsitek Post Modern yang tampak dari ciri-ciri di atas berbeda dengan Modern. Di sini akan disebutkan tiga perbedaan penting dengan yang modern itu.

  1. Tidak memakai semboyan Form Follows Function

Arsitektur posmo mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah bahasa dan oleh karena itu arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan.

Apa yang dikomunikasikan?

Yang dikomunikasikan oleh ketiganya itu berbeda-beda, yaitu:

PURNA MODERN: yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural, atau identitas historikal. Hal-hal yang ada di masa silam itu dikomunikasikan, sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari perjalanan sejarah kemanusian.

NEO MODERN : mengkomunikasikan kemampuan teknologi dan bahan untuk berperan sebagai elemen artistik dan estetik yang dominan.

DEKONSTRUKSI : yang dikomunikasikan adalah (a.) unsur-unsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur. (b.) Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun substansial.

Karena pokok-pokok pikiran itu dapat pula dikatakan bahwa:

–          Arsitektur PURNA MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa silam (The Past),

–          Arsitektur NEO MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa ini (The Present), sedangkan

–          Arsitektur DEKONSTRUKSI tidak mengikatkan diri kedalam salah satu dimensi Waktu (Timelessness).

Pandangan seperti ini mengakibatkan timbulnya pandangan terhadap Dekonstruksi yang berbunyi “Ini merupakan kesombongan dekonstruksi.”

2.Fungsi ( bukan sebagai aktivitas atau apa yang dikerjakan oleh manusia terhadap arsitektur)

Yang dimaksud dengan `fungsi’ di sini bukanlah `aktivitas’, bukan pula `apa yang dikerjakan/dilakukan oleh manusia tehadap arsitektur’ (keduanya diangkat sebagai pengertian tentang `fungsi’ yang lazim digunakan dalam arsitektur modern). Dalam arsitektur posmo yang dimaksud fungsi adalah peran adan kemampuan arsitektur untuk mempengaruhi dan melayani manusia, yang disebut manusia bukan hanya pengertian manusia sebagai mahluk yang berpikir, bekerja melakukan kegiatan, tetapi manusia sebagai makhluk yang berpikir, bekerja, memiliki perasaan dan emosi, makhluk yang punya mimpi dan ambisi, memiliki nostalgia dan memori. Manusia bukan manusia sebagai makhluk biologis tetapi manusia sebagai pribadi.

Fungsi = apa yang dilakukan arsitektur, bukan apa yang dilakukan manusia; dan dengan demikian, ‘FUNGSI bukan AKTIVITAS’

Dalam posmo, perancangan dimulai dengan melakukan analisa fungsi arsitektur, yaitu :

–          Arsitektur mempunyai fungsi memberi perlindungan kepada manusia (baik melindungi nyawa maupun harta, mulai nyamuk sampai bom),

–          Arsitektur memberikan perasaan aman, nyaman, nikmat,

–          Arsitektur mempunyai fungsi untuk menyediakan dirinya dipakai manusia untuk berbagai keperluan,

–          Arsitektur berfungsi untuk menyadarkan manusia akan budayanya akan masa silamnya,

–          Arsitektur memberi kesempatan pada manusia untuk bermimpi dan berkhayal,

–          Arsitektur memberi gambaran dan kenyataan yang sejujur-jujurnya.

Berdasarkan pokok pikiran ini, maka :

–          Dalam PURNA MODERN yang ditonjolkan didalam fungsinya itu, adalah  fungsi-fungsi metaforik (=simbolik) dan historikal.

–          NEO MODERN menunjuk pada fungsi-fungsi mimpi, yang utopi (masa depan yang sedemikian indahnya sehingga tidak bisa terbayangkan).

–          DEKONSTRUKSI menunjuk pada kejujuran yang sejujur-jujurnya.

3. Bentuk dan Ruang

Didalam posmo, bentuk dan ruang adalah komponen dasar yang tidak harus berhubungan satu menyebabkan yang lain (sebab akibat), keduanya menjadi 2 komponen yang mandiri, sendiri-2, merdeka, sehingga bisa dihubungkan atau tidak.

Yang jelas bentuk memang berbeda secara substansial, mendasar dari ruang.

Ciri pokok dari bentuk adalah ‘ada dan nyata/terlihat/teraba’, sedangkan ruang mempunyai ciri khas ‘ada dan tak-terlihat/tak-nyata’. Kedua ciri ini kemudian menjadi tugas arsitek untuk mewujudkannya.

Berdasarkan pokok pikiran ini, maka dalam arsitektur :

–          Purna Modern bentuk menempati posisi yang lebih dominan daripada ruang,

–          Neo Modern sebaliknya bertolak belakang , menempatkan ruang sebagai unsur yang dominan, sedangkan dalam

–          Dekonstruksi tidak ada yang dominan, tidak ada yang tidak dominan, bentuk dan ruang memiliki kekuatan yang sama.





Pengantar Sejarah Arsitektur

2 08 2010

 

Arsitektur lahir dari dinamika antara kebutuhan (kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dsb), dan cara bahan bangunan yang tersedia dan teknologi konstruksi. Arsitektur prasejarah dan primitif merupakan tahap awal dinamika ini. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktek-praktek, arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Pada tahap ini lah terdapat proses uji coba, improvisasi, atau peniruan sehingga menjadi hasil yang sukses. Seorang arsitek saat itu bukanlah seorang figur penting, ia semata-mata melanjutkan tradisi. Arsitektur Vernakular lahir dari pendekatan yang demikian dan hingga kini masih dilakukan di banyak bagian dunia.

Permukiman manusia di masa lalu pada dasarnya bersifat rural. Kemudian timbullah surplus produksi, sehingga masyarakat rural berkembang menjadi masyarakat urban. Kompleksitas bangunan dan tipologinya pun meningkat. Teknologi pembangunan fasilitas umum seperti jalan dan jembatan pun berkembang. Tipologi bangunan baru seperti sekolah, rumah sakit, dan sarana rekreasi pun bermunculan. Arsitektur Religius tetap menjadi bagian penting di dalam masyarakat. Gaya-gaya arsitektur berkembang, dan karya tulis mengenai arsitektur mulai bermunculan. Karya-karya tulis tersebut menjadi kumpulan aturan (kanon) untuk diikuti khususnya dalam pembangunan arsitektur religius. Contoh kanon ini antara lain adalah karya-karya tulis oleh Vitruvius, atau Vaastu Shastra dari India purba. Di periode Klasik dan Abad Pertengahan Eropa, bangunan bukanlah hasil karya arsitek-arsitek individual, tetapi asosiasi profesi (guild) dibentuk oleh para artisan / ahli keterampilan bangunan untuk mengorganisasi proyek.

Pada masa Pencerahan, humaniora dan penekanan terhadap individual menjadi lebih penting daripada agama, dan menjadi awal yang baru dalam arsitektur. Pembangunan ditugaskan kepada arsitek-arsitek individual – Michaelangelo, Brunelleschi, Leonardo da Vinci – dan kultus individu pun dimulai. Namun pada saat itu, tidak ada pembagian tugas yang jelas antara seniman, arsitek, maupun insinyur atau bidang-bidang kerja lain yang berhubungan. Pada tahap ini, seorang seniman pun dapat merancang jembatan karena penghitungan struktur di dalamnya masih bersifat umum.

Bersamaan dengan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu (misalnya engineering), dan munculnya bahan-bahan bangunan baru serta teknologi, seorang arsitek menggeser fokusnya dari aspek teknis bangunan menuju ke estetika. Kemudian bermunculanlah “arsitek priyayi” yang biasanya berurusan dengan bouwheer (klien)kaya dan berkonsentrasi pada unsur visual dalam bentuk yang merujuk pada contoh-contoh historis. Pada abad ke-19, Ecole des Beaux Arts di Prancis melatih calon-calon arsitek menciptakan sketsa-sketsa dan gambar cantik tanpa menekankan konteksnya.

Sementara itu, Revolusi Industri membuka pintu untuk konsumsi umum, sehingga estetika menjadi ukuran yang dapat dicapai bahkan oleh kelas menengah. Dulunya produk-produk berornamen estetis terbatas dalam lingkup keterampilan yang mahal, menjadi terjangkau melalui produksi massal. Produk-produk sedemikian tidaklah memiliki keindahan dan kejujuran dalam ekspresi dari sebuah proses produksi.

Ketidakpuasan terhadap situasi sedemikian pada awal abad ke-20 melahirkan pemikiran-pemikiran yang mendasari Arsitektur Modern, antara lain, Deutscher Werkbund (dibentuk 1907) yang memproduksi obyek-obyek buatan mesin dengan kualitas yang lebih baik merupakan titik lahirnya profesi dalam bidang desain industri. Setelah itu, sekolah Bauhaus (dibentuk di Jerman tahun 1919) menolak masa lalu sejarah dan memilih melihat arsitektur sebagai sintesa seni, ketrampilan, dan teknologi.

Ketika Arsitektur Modern mulai dipraktekkan, ia adalah sebuah pergerakan garda depan dengan dasar moral, filosofis, dan estetis. Kebenaran dicari dengan menolak sejarah dan menoleh kepada fungsi yang melahirkan bentuk. Arsitek lantas menjadi figur penting dan dijuluki sebagai “master”. Kemudian arsitektur modern masuk ke dalam lingkup produksi masal karena kesederhanaannya dan faktor ekonomi.

Namun, masyarakat umum merasakan adanya penurunan mutu dalam arsitektur modern pada tahun 1960-an, antara lain karena kekurangan makna, kemandulan, keburukan, keseragaman, serta dampak-dampak psikologisnya. Sebagian arsitek menjawabnya melalui Arsitektur Post-Modern dengan usaha membentuk arsitektur yang lebih dapat diterima umum pada tingkat visual, meski dengan mengorbankan kedalamannya. Robert Venturi berpendapat bahwa “gubuk berhias / decorated shed” (bangunan biasa yang interior-nya dirancang secara fungsional sementara eksterior-nya diberi hiasan) adalah lebih baik daripada sebuah “bebek / duck” (bangunan di mana baik bentuk dan fungsinya menjadi satu). Pendapat Venturi ini menjadi dasar pendekatan Arsitektur Post-Modern.

sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas





Fungsi Bangunan

23 07 2010

 

Pengertian Fungsi Bangunan

• Adalah cara bangunan itu dapat melayani pemakainya dalam suatu kegiatan yang mengandung proses.

• Bangunan berfungsi dengan baik jika semua unsur diatur dengan baik sehingga tidak terjadi hambatan dalam operasinya

Kelompok Bangunan Wisma :

Fungsi bangunan untuk rumah tinggal.

Kelompok Bangunan Karya :

Fungsi bangunan untuk tempat bekerja, seperti kantor, industri, pasar

Kelompok Bangunan Suka :

Fungsi bangunan untuk tempat hiburan, seperti bioskop, restoran, pertokoan, tempat bermain.

Kelompok Bangunan Tempat Ibadah :

Fungsi bangunan untuk tempat beribadah, seperti mesjid, gereja, vihara.

 

Fungsi Ruang

• Sebuah bangunan terdiri dari bermacam ruang yang mempunyai fungsi berbeda

• Fungsi ruang dapat dibagi menjadi 4 kelompok besar, yaitu :

ruang publik, ruang, privat, ruang sirkulasi, ruang servis

1. Ruang Publik :

Adalah ruang umum, misalnya lobi, hall

Syarat fisik :

• Mudah dicapai dan dimasuki

• Mudah keluar terutama kalau ada bahaya kebakaran

• Jalan keluarnya langsung diarahkan ke ruang terbuka

2. Ruang Privat :

Adalah ruang yang dipakai untuk kepentingan pribadi, misalnya kamar tidur, ruang kerja, dll.

3. Ruang Servis :

Adalah sarana pemeliharaan dan tempat untuk melayani kebutuhan pribadi para pemakai gedung, seperti dapur, gudang, tempat jemur. 

4. Ruang Sirkulasi :

Adalah jalan lalu dari jalan masuk di luar bangunan sampai masuk ke dalam bangunan.

• Sirkulasi Horizontal : gang/selasar, ruang peralihan

• Sirkulasi Vertikal : penghubung dari lantai ke lantai,seperti tangga,ramp eskalator,lift