Masa Modern Akhir (1950-1960an)

25 09 2010

Titik awal kehancuran Arsitektur modern

Sekitar tahun 1960-an, pertentangan antara kedua aliran itu ( pro dan kontra tahun 1950 ) terjadi lagi. Inti permasalahannya adalah : untuk siapa sebenarnya arsitektur itu diciptakan?

Pertanda pertama ‘berakhirnya’ arsitektur modern adalah dengan meninggalnya keempat empu arsitektur modern di tahun 1950-an dan awal 1960-an. Karya-karya para empu itu kini telah menjadi sumber penjiplakan dan pendangkalan nilai-nilai modernisme. Arsitektur yang hadir dalam rupa yang geometriknya demikian jernih, polos dan sangat mudah dijiplak dengan menggunakan mesin gambar, mewabah ke segenap penjuru dunia. Idealisme yang terdapat di dalam karya para empu itu sudah lenyap karena yang sekarang muncul adalah ‘mass-production’ berupa modul yang boleh digandakan tanpa batas dan tanpa kenal lingkungan. Idealismenya kini adalah efisiensi sebesar mungkin laba dan seminimal mungkin investasi, arsitektur adalah sebuah bisnis, bukan jasa dan yang paling penting bagi tujuan rupa arsitektur adalah kotak yang telanjang bulat adalah pertanda kemodernan. Dengan gedung-gedung yang modern ini, apa yang terdapat di dalam tersaksikan dari luar, seluruh permukaan menjadi tanpa selimut atau baju (‘skin and bone’ belaka).

Ada satu unsur lain tahun 60-an yang cukup berpengaruh dalam dunia arsitektur namun baru diakui perannnya pada tahun 1990-an, yaitu ‘Mass Media’ ( media cetak, TV, film ). Media massa menjadi bagian dari arsitektur karena media massa menjadi wadah bagi kebebasan individual, alat diskusi / pertukaran dan penyebar-luasan ide. Media massa menjadi pemicu timbulnya Pluralisme atau ‘kemajemukkan’ yang menjadi bahan dasar Post-Modernisme.

Kelemahan Arsitektur Modern

Arsitektur modern dianggap memiliki kelemahan yang membuatnya tidak dapat eksis untuk jangka waktu yang lama. Kelemahan–kelemahan arsitektur modern yaitu:

  • Arsitektur  modern yang berdasarkan ilmu saja dianggap kaku atau tidak manusiawi.
  • Proses desain yang dijalani arsitek adalah proses produksi industri.
  • Arsitektur dianggap sebagai produk dimana tidak mempunyai makna, hanya berdayaguna saja.
  • Standardisasi industri menyebabkan hilangnya kreativitas.
  • Hilangnya ciri kedaerahan karena arsitektur modern adalah arsitektur “internasional“.
  • Arsitektur modern karena didukung revolusi industri maka diidentikkan dengan kapitalisme.

Intinya arsitektur modern mempunyai kelemahan terhadap sisi manusiawinya. Arsitektur modern dianggap tidak “menyentuh” manusia padahal manusia adalah pengguna karya arsitektur itu sendiri.

Aliran penentang Arsitektur Modern

  • Fungsionalisme; Menyatakan bahwa bentuk bangunan harus mengikuti pertimbangan yang praktis pada perancangan, struktur, dll. Dengan penekanan pada fungsi bangunan itu sendiri. Penganut fungsionalisme berusaha membuat bangunan bebas dari pengaruh berbagai macam style, baik yang dating dari luar, maupun bentuk-bentuk peninggalan sejarah, karena menurutnya, style akan menghambat berfungsinya bangunan secara efisien. Dengan demikian, karya yang dihasilkan merupakan karya yang orisinil, sentuhan dari arsiteknya.
  • Brutalisme (1960an) Salah satu penganutnya adalah Paul Rudolph yang menampilkan rupa arsitektur yang eksageratif. Brutalisme yang hadir di dasawarsa 1960-an dengan terang-terangan menghadirkan dirinya dengan dua sasaran yakni pertama, mencemooh International Style yang sudah sedemikian dangkalnya dalam menghadirkan arsitektur, yang kedua, mencoba untuk menyodorkan ‘obat penyembuh’ dengan ajakan untuk tidak melihat manusia sebagai robot tetapi sebagai insane yang memiliki emosi.

Contoh aliran modern akhir

International Style

Aliran international style merupakan suatu aliran dimana arsitektur modern menerima bentuk-bentuk dinamis yang dapat mengatasi keterikatan pada jaman neo klasik maupun perkembangan jaman berikutnya. Bangunan yang dibuat beraliran international style tidak memiliki suatu ciri khas tertentu penanda jaman, sehingga bangunannya dapat dikatakan sebagai bangunan dengan gaya sepanjang masa. Bangunannya sendiri terkesan sangat sederhana atau bersahaja. Lever House, New York oleh Skidmore, Owings & Merrill misalnya, adalah bangunan yang sangat sederhana dan bersahaja karena tanpa hiasan apapun juga, sehingga tidak mencirikan suatu aliran arsitektur tertentu.

Brutalisme

Dasawarsa 1960-an adalah dasawarsa yang ironik bagi perjalanan arsitektur modern. Dalam hal arsitektur telah menjadi sebuah corak arsitektur yang sangat rasionalistik, saat dasawarsa ini merupakan momentumdi mana corak arsitektur yang ilmiah tidak hanya mendapatkan tempat yang terhormat di sekolah dan laboratorium arsitektur; dalam praktek arsitektur, langgam yang bercirikan geometrik Platonik ini telah mampu mendunia. Bahkan, di Asia, Afrika dan Amerika Latin, langgam ini menjadi ikon dan lambang bagi kemerdekaan dan kebebasan dari penjajahan, serta menjadi alat bukti kemampuan bangsa-bangsa ini untuk sejajar dengan negara-negara maju. Di Indonesia misalnya, Hotel Indonesia, Hotel Bali Beach dan Hotel Pelabuhan Ratu; lalu kompleks Gelora Senayan dan rancangan Gedung Conefo yang sekarang menjadi Gedung DPR-MPR adalah tanda-tanda jaman dari arsitektur modern di Indonesia. Tentu, slogan ‘Bentuk Mengikuti Fungsi’ menjadi sebuah rumusan universal bagi kegiatan merancang yang dilakukan di nyaris semua sekolah arsitektur, tak peduli apakah slogan itu dimengerti dengan benar ataukah sudah mengalami pembelokan dan penyempitan pengertian.

Di Eropa dan Amerika Serikat, semenjak awal dasawarsa ini telah ditandai oleh berbagai gejolak sosial dan akademik, juga gejolak politik dan budaya. Berbagai demonstrasi mahasiswa, demonstrasi masyarakat yang memprotes pebongkaran bangunan lama untuk diganti dengan model gedung modern yang ternyata tak lebih estetik daripada bangunan lama yang dibongkar; dan protes arsitek-arsitek muda yang merasakan bahwa masa belajar yang pernah mereka jalani ternyata adalah masa belajar arsitektur yang terlalu mengekang kebebasan kreatif dalam berarsitektur; akhirnya memunculkan ragam arsitektur yang dikenal dengan sebutan ragam Brutalisme. Di samping ‘Brutal’ yang berarti kurang ajar, sebutan brutalisme ini juga dapat dimengerti sebagi sebutan yang berasal dari kata perancis ‘brut’ yang artinya adalah kasar, khususnya untuk wajah dari permukaan benda. Paul Rudolph dan James Stirling dalam masa awal karier mereka adalah dua nama yang menandai ragam brutalisme ini. Arsitektur modern sampai pada saat-saat akhirnya dengan hadirnya brutalisme ini. Dan bagi Charles Jencks, peristiwa perobohan perumahan Pruitt Igoe dicatatnya sebagai momentum dari matinya arsitektur modern. Sebagai karya arsitektur, bangunan ini sempat mendapat penghargaan tertinggi di bidang arsitektur di AS; dan dalam penggunaannnya perumahan ini mewakili kegagalan arsitektur modern dalam mengakomodasi kebutuhan pemenuhan sosiologik, kultural dan humanistik dari para pengguna arsitektur.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: